Sejatinya setia adalah menunggu tanpa batas, berharap meskipun tidak diharapkan, berjuang meskipun selalu diabaikan. bukankah penantian selalu membawamu kepada penghujung jalan? bukankah akan selalu ada akhir dari sebuah perjalanan panjang? meskipun kepiluan terus menghujam, menyeretku kedalam kenyataan-kenyataan, melemparku kedalam sumur kepahitan. kau tetap menjadi satu-satunya yang selalu aku harapkan. selalu kubawa dalam imajinasi-imajinasi bodohku, sialnya.
Sejatinya bahagia adalah yang merasakah kesakitan dan jatuh yang teramat dalam pada mulanya. yang tetap tegar dihalau berbagai rintangan. yang mengeluarkan setitik air mata kebahagiaan diakhir cerita. egoiskah bila kau masih terus memikirkan masa lalu sedangkan dia terus menantimu? egoiskah menggantungkan harap pada sebuah bayangan semu yang terus melangkah menjauhimu sedangkan kenyataan terus merengkuhmu?
Kata yang tak sempat terucap kadang berupa airmata. kata yang tak sanggup kau tuturkan hanyalah salam kehancuran yang terdalam. saat tetes demi tetes harapan menghilang. saat detik demi detik mengakhiri. saat itulah kau harus mengakhiri perjuangan yang selalu kau lakukan sendirian.