Kamis, 18 April 2013

entahlah.

apa yang lebih menyakitkan berpura-pura bahagia demi orang yang kau cintai?
Demi tuhan. Kau sungguh membuatku lelah. Tatapan elangmu seolah ingin menerkamku. ampuni aku. aku hanya ingin tahu bagaimana keadaanmu. tidak lebih dari itu. Setiap harinya tugasku bahkan menyerupai penguntit. hanya untuk mengetahui bagaimana keadaan moodmu. bahkan kau pasti tidak pernah tahu, siapa yang seringkali berkoar-koar menyerukan namamu, sampai-sampai telinga orang-orang panas dibuatnya.

kau terlalu bodoh. bahkan, kau tidak tahu suara siapa yang sedang berbicara denganmu tatkala itu? bahkan kau pasti tak menyadari bagimana reaksi seseorang tersebut seusai bercakap-cakap denganmu di telepon waktu itu? Kau konyol! Aku hampir saja mati terkakak dibuatnya. suaramu yang pada saat itu hampir saja ingin mengutukku tatkala aku menjawab telepon, namun sejenak kemudian melembut setelah yang kau dengar adalah suara wanita, bukan orang yang kau maksud yang ingin kau caci maki.

aku tidak mengerti. mengapa tiba-tiba lidahku keluh dan kaku. bahkan untuk berkata "ya" atau "sama-sama" pun tak mampu. padahal setiap harinya aku mampu memproduksi lebih dari jutaan kata permenit. semua temanku menganggapku aktif dalam berbicara. namun, mengapa aku berubah menjadi anak yang pendiam pada saat kau menegurku maksudku meminjam sesuatu dariku?

seperti biasa kau terlalu misterius. bahkan aku sampai linglung melihatmu. baru kali itu aku melihat wajahmu ditekuk. kau sudah seperti baju yang tak pernah disetrika saja. kau terus berjalan kedepan dengan muka milikmu yang lucu itu. sekali lagi aku terkejut. bagaimana bisa seorang yang kaku sepertimu bisa berekspresi? hah! andai saja aku membawa kamera, akan aku abadikan wajahmu yang sedang menggerutu itu. Karena aku tahu perlahan kau mulai menyadari kehadiranku. dengan cepat kau rubah mimik wajahmu. kau memasang tampang angkuhmu lagi. dan secepat kilat mengemudikan sepeda motormu. aku hanya tersenyum menyaksikan tingkah misteriusmu itu.

kau (mungkin) telah hapal dengan wajahku. seorang gadis idiot yang selalu saja hadir dihadapanmu. demi dewa zeus, aku sangat malu kepadamu. bagaimana bisa aku bertingkah seperti orang yang kekurangan satu tetes - maksudku idiot - dihadapanmu tatkala itu. demi herculles. kau pasti ilfeel melihatku saat itu. dengan bodohnya aku bergoyang kesana-kemari menggoda temanku, lalu tiba-tiba mengintip ke kelas. Astaga! rupanya kau menatapku dengan pandangan anehmu itu. demi poseidon. bisakah waktu berhenti saat itu? aku ingin berlari sekencang-kencangnya agar kau tak bisa melihatku. aku malu.

terkadang aku berfikir, bagaimana seandainya aku ubah cita-citaku menjadi detektif saja. kau tahu detektif? seseorang yang menggunakan jas hitam dan kaca mata hitam. dengan kata lain penguntit. ya. tugasnya sama, sama-sama memata-matai seseorang. namun aku lebih senang jika kau menyebutku detektif. konotasinya lebih menyenangkan untuk didengar. halo tuan. satu alasanku, aku ingin selalu mengetahui keberadaan dan keadaanmu. tak pernahkah kau menyadarinya?

kalau saja aku boleh munafik, aku ingin mengatakan bahwa aku tidak pernah menyukai semua tentangmu. kau terlalu semu. bahkan kau terlalu tak pantas. bisakah aku berhenti munafik? sejujurnya, aku menyukai hal apapun yang menyangkut dirimu. kau tidak semu. tidak. bahkan hadirmu terlalu nyata, sehingga tak pernah bisa melihat adanya aku yang hanya samar dan nyaris tak terlihat. kau bahkan terlalu pantas. baiklah kau memang terlalu pantas bersanding dengan mereka. kau tahu itu. mereka yang bahkan nyaris tak memiliki satu kekurangan apapun.

bisakah kau berhenti memakai topeng itu. berhentilah. aku mohon. lepaskan semua tipuan yang sering menutupi setiap gerak-gerikmu. kau sudah luar biasa dimataku. takperlu membuatmu semakin yang bahkan aku tidak tahu harus memberi nama apa. jangan buat aku ragu. jangan biarkan kebingungan menyelimuti setiap malamku. berekspresilah sesukamu. aku akan tetap memandangmu dengan goresan senyum pada bibirku.

entahlah. darimana kekuatan yang mendorongku hingga aku berani menyerukan namamu dalam benakku. bahkan aku tak peduli, dan acuh mendengar kau sudah memiliki tambatan hatimu. tidak. tidak apa. aku baik-baik saja. hanya saja timbul rasa nyeri pada bagian sini. sesak yang teramat dalam pada dadaku ini. tidak separah itu. hanya saja air mataku nyaris menenggelamkan jagad raya ini. demi tuhan, ini sudah berlebihan.

untuk pertama kalinya aku ingin berterima kasih kepadamu. berkatmu, aku lebih bersemangat untuk berangkat ke sebuah gedung yang membosankan namun tersimpan jutaan ilmu untukku. berkatmu, aku jadi lebih senang berhayal. menghayalkan imajinasiku yang sangat melambung.
terimakasih sekali lagi,
walau aku yakin seratus persen, bahkan kau tidak pernah sadar pernah membantu dan memberikan pencerahan terhadapku.
tetaplah bertingkah seperti dirimu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
blogger template by arcane palette