Minggu, 14 April 2013

Sebut saja.


Sebut saja ia mentari.
Pancaran sinar yang begitu menyilaukan yang mampu membuat setiap saraf dan dinding sel melumpuh. Membuat setiap detik terasa begitu jauh. Membuat sebuah gelombang cahaya dahsyat yang mampu meroboh setiap sudut ketegaran pada nadiku.


Sebut saja ia api.
Panas teriknya membakar setiap deru nafasku. Pesonanya mampu mencairkan sisa-sisa tubuhku yang membeku. Setiap hentakan kaki nya mampu membuat suhu tubuhku menaik hingga beberapa derajat. Tidak. Aku tidak demam. Aku hanya tak kuat memandanginya terus-menerus.




Sebut saja ia monster.
Tatapannya mampu membuatku tak berkutik. Setiap susunan kata-katanya membuat semua kosa kata yang aku punya lenyap. Hilang. Kosong.


Sebut saja ia dewa.
Ia gagah, perkasa bahkan terkesan angkuh dengan semua kelebihan yang ia punya. Ia terlalu sempurna. Bahkan aku tidak sanggup menjelaskan satu persatu kelebihan yang terletak pada dirinya. Dia begitu luar biasa. Sungguh. Tidak ada satu katapun yang mampu mendeskripsikan dimana letak ketidak-menakjuban pada dirinya.


Sebut saja ia air.
Ada. Nyata. Benar-benar terlihat. Namun sampai kapanpun aku tak pernah bisa menggenggamnya dalam sepuluh genggam tanganku. Dia sangat kubutuhkan dan membuatku hidup. Namun selalu saja tak mampu kuraih dan kusimpan dalam jemari kecilku.



Sebut saja ia langit.
Tak pernah bosan dipandang. Tak pernah lelah di lihat. Namun selalu saja mustahil diraih. Tidakkah mungkin seseorang dapat menggapai langit biru?


Sebut saja ia manusia purba.
Dia kuno. Dia bodoh. Dia aneh. Tidakkah seharusnya mendengarkan lelucon yang konyol semestinya harus tertawa? Mengapa hanya tatapan seram yang selalu di tonjolkannya. Benar-benar gila.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
blogger template by arcane palette